
STT REAL Batam Sukses Gelar CCBT Regional Gathering Asia Tenggara 2026, Perkuat Kolaborasi Penerjemahan Alkitab
BATAM – Sekolah Tinggi Teologi (STT) REAL Batam sukses menyelenggarakan perhelatan akbar bertajuk CCBT Regional Gathering South East Asia 2026 yang berlangsung sejak tanggal 14 hingga 16 Juli 2026. Mengusung tema strategis “Convergen: Carrying the Word for Generational Restoration”, kegiatan berskala internasional ini mengambil tempat di kampus STT REAL Batam, Kepulauan Riau. Acara ini menjadi forum perjumpaan penting yang diinisiasi untuk membangun keselarasan visi, memperkuat kerja sama, dan merumuskan langkah keberlanjutan pelayanan misi kontekstual di kawasan Asia Tenggara.
Pertemuan regional ini mencatat tingkat partisipasi yang luar biasa dengan kehadiran total 131 orang, yang terdiri dari 103 peserta terdaftar dan 28 panitia penyelenggara beserta relawan. Para peserta yang memadati acara berasal dari beragam latar belakang pelayanan yang kuat, meliputi 80 orang pendeta, 10 dosen seminari, serta 21 praktisi penerjemahan Alkitab dan pekerja pelayanan. Antusiasme dan jangkauan gerakan ini semakin terlihat nyata dengan kehadiran perwakilan dari 18 denominasi gereja dan berbagai lembaga teologi lintas negara.
Memperkaya dinamika pertemuan tersebut, sesi presentasi diisi oleh paparan strategis dari para pakar, di antaranya David Reeves dan Sean Cooper selaku perwakilan dari unfoldingWord. Keduanya memaparkan visi mengenai pentingnya memperlengkapi gereja dengan sumber daya dan teknologi yang tepat untuk memfasilitasi gerakan Penerjemahan Alkitab yang Berpusat pada Gereja (Church-Centric Bible Translation). Melengkapi pandangan praktis tersebut dari kacamata akademis, Dr. Fredy Simanjuntak selaku Wakil Ketua 1 STT REAL Batam, menyoroti urgensi integrasi pelayanan penerjemahan Alkitab ke dalam kurikulum pendidikan teologi. Sinergi dari presentasi tokoh-tokoh ini memberikan landasan yang kuat bagi para peserta bahwa kolaborasi erat antara lembaga misi, gereja lokal, dan institusi pendidikan adalah kunci utama untuk restorasi generasi melalui Firman Tuhan.
Selama tiga hari pelaksanaannya, konferensi ini juga membahas berbagai isu fundamental dan mutakhir secara komprehensif, mulai dari penyelarasan visi, pemanfaatan teknologi dan AI (Kecerdasan Buatan) dalam penerjemahan, metode Cerita Alkitab Lisan, hingga strategi perencanaan jaringan kemitraan. Para delegasi terlibat aktif dalam rangkaian pleno, lokakarya, diskusi panel, dan pelatihan praktis. Sebagai puncak pembuktian nyata dari kolaborasi pelayanan ini, panitia juga menggelar momen bersejarah berupa Soft Launching Suku Laut New Testament Trial Edition.
Menanggapi kesuksesan penyelenggaraan acara ini, Prof. Dr. F. Irwan Widjaja, MAIE, PhD selaku Penanggung Jawab kepanitiaan, menyampaikan apresiasi dan pandangannya. “Tujuan utama kita berkumpul di sini adalah untuk memperkuat jejaring, kolaborasi, dan strategi pelayanan CCBT di kawasan Asia Tenggara. Kami sangat bersyukur karena melalui pertemuan ini, gereja-gereja dan seminari semakin terdorong untuk menjadi peserta aktif dalam gerakan penerjemahan, serta mulai mengintegrasikan visi CCBT ke dalam kurikulum teologi mereka guna memperluas kemitraan strategis ke depannya,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Panitia, Julianus Iwan, menyoroti aspek kelancaran operasional teknis dan tingginya kepuasan para peserta selama acara berlangsung di STT REAL Batam. “Umpan balik yang kami terima sangat menggembirakan, di mana tingkat kepuasan peserta secara keseluruhan mencapai skor 4,74 dari skala 5. Hal ini membuktikan bahwa peluang jaringan yang kami fasilitasi berhasil menumbuhkan kolaborasi yang erat antara gereja, seminari, dan lembaga Alkitab, sekaligus memperkuat komitmen penuh mereka terhadap pelayanan penerjemahan dengan skor kepuasan komitmen di angka 4,78,” jelasnya dengan penuh kebanggaan.
Dukungan transformatif juga datang dari para mitra utama acara, di mana Tim Jore dari unfoldingWord secara khusus menyoroti kesiapan teknologi dalam pelayanan. “Melalui pelatihan AI dan teknologi terjemahan yang kami dorong dalam fase implementasi, kami berharap gereja-gereja lokal dapat diperlengkapi dengan kapasitas yang mumpuni untuk memulai proyek terjemahan percontohan mereka sendiri. Kolaborasi lintas batas ini adalah kunci utama untuk mempraktikkan visi besar di tingkat akar rumput secara efektif,” paparnya.
Sinergi berkelanjutan ini turut diamini oleh Cristov Manuhutu dari Yayasan Bahtraku, yang lebih menitikberatkan pada aspek multiplikasi dan perbanyakan gerakan ke depan. “Harapan dan doa terbesar kami adalah agar Tuhan terus memberkati gerakan yang berkembang pesat ini, sehingga setiap komunitas bahasa di pelosok manapun suatu hari nanti dapat mendengar Firman Tuhan murni dalam bahasa hati mereka. Dengan berdirinya jaringan regional yang kuat pada hari ini, kami optimis gerakan CCBT akan berumur panjang, berkelanjutan, dan terus didukung secara mandiri oleh gereja, seminari, serta para mitra pelayanan di masa mendatang,” tutupnya, mengakhiri seluruh rangkaian konferensi bersejarah tersebut dengan penuh pengharapan.



